Siaran Sehat, Derajat Bangsa Terangkat

Penyiaran Indonesia

Tetaplah Jaya

Jadi energi untuk Bangsa

Jadilah perekat di antara kita

Lagu berjudul Penyiaran Kita ciptaan Mulyo Hadi Purnomo menggema di Pendapi Gedhe Balaikota Solo, Rabu (31/3/2021) pada puncak acara penutupan sekolah Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) Angkatan ke-43. Kegiatan yang diselenggarakan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat sejak Selasa (30/3/2021) itu diikuti peserta dari berbagai komponen masyarakat. Sebagian besar adalah praktisi dari Lembaga Penyiaran televisi dan radio. Beberapa mahasiswa, dosen, lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan masyarakat umum menjadi bagian dari peserta.

Puncak peringatan Hari Penyiaran Nasional (Harsiarnas) dilaksanakan pada Kamis (1/4/2021), di Solo. Pada peringatan tahun ini, tema yang diusung adalah Penyiaran Sebagai Pendorong Kebangkitan Ekonomi Pasca Pandemi.

Sekolah P3SPS yang diselenggarakan dalam rangkaian peringatan Hasiarnas Ke-88 itu menjadi bagian upaya KPI Pusat untuk terus mengedukasi praktisi lembaga penyiaran dan masyarakat pada umumnya. Sebagian jajaran Komisioner KPI Pusat hadir sebagai pembicara, di antaranya Ketua KPI P, Agung Suprio, Wakil Ketua KPI Pusat, Mulyo Hadi P, Koordinator Bidang Kelembagaan, Irsal Ambia, Koordinator Bidang Isi Siaran, Mimah Susanti, dan Koordinator Bidang Pengelolaan Struktur dan Sistem Penyiaran, Mohamad Reza. Selain pakar-pakar penyiaran dari KPI Pusat, pembicara lain yaitu pengamat media dan praktisi pendidikan, Ezki Tri Rezeki Suyanto dan Hari Wiryawan.

Banyak buah tangan yang penulis bawa setelah bergabung dalam rangkaian kegiatan Sekolah P3SPS. Sebagian yang penulis petik di antaranya adalah pesan dari Wakil Ketua KPI Pusat yang juga menjadi Kepala Sekolah P3SPS. Mulyo menyampaikan, penyiaran sehat akan terwujud jika seluruh komponen masyarakat berbagi peran. Pemerintah, KPI, industri dan masyarakat mau bekerja sama dan saling mendukung. Substansi yang diatur dalam P3SPS adalah menghormati nilai agama, kesopanan, etika, dan kesusilaan. Perlindungan terhadap anak, remaja, dan orang serta masyarakat tertentu. Pelarangan dan pembatasan adegan seks, adegan kekerasan, mistik, horor, dan supranatural. Penggolongan Program Sesuai Usia Khalayak serta sanksi administratif mulai dari teguran tertulis sampai pencabutan Izin Penyelenggaraan Penyiaran (IPP).

Tenaga Ahli Penjatuhan Sanksi KPI Pusat, Irvan Priyanto menyampaikan tiga pesan penting jika seseorang berada di pihak industri penyiaran. Kurang lebih, isi pesannya yaitu pertama, pahami regulasi penyiaran. Kedua, jalankan etika yang diamanatkan dan norma yang ada. Ketiga, gunakan rasa yakni dengan memposisikan diri selaku penonton jangan sebagai pemilik media. Insan-insan yang bersentuhan langsung dengan industri penyiaran memang perlu memiliki rasa tanggung jawab moral yang tinggi kepada masyarakat sebab peran mereka sangat besar untuk turut mencerdaskan kehidupan Bangsa.

PR Bersama

Puncak Harsiarnas di Solo itu disebut Ketua KPI sebagai momentum supaya publik mengetahui  perpindahan siaran televisi analog ke digital. Mengacu kepada UU No. 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja, ada tenggat waktu sampai 2 November 2020 sebagai batas akhir penggunaan siaran analog. Sedikit demi sedikit sosialisasi tentang siaran digital itu harus terus menerus disampaikan kepada masyarakat luas. Sehingga pengguna media penyiaran tetap bisa mengaksesnya.

Masyarakat pada umumnya dan idealnya tentu mendambakan siaran yang sehat, berkualitas dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Mewujudkan siaran sehat bukan sesuatu yang instan. Butuh komitmen bersama. Pemilik media dan seluruh komponen yang terlibat dalam produksi siaran televisi dan radio harus benar-benar memiliki dedikasi dan niat yang baik dan benar. Salah satu sosok artis yang diangkat Mulyo Hadi dalam sekolah P3SPS adalah Deddy Mizwar. Deddy yang memproduksi siaran-siaran bermuatan religi itu tidak semata-mata mengejar iklan. Melalui acaranya seperti Para Pencari Tuhan dan Lorong Waktu, Deddy ingin menyampaikan kebaikan dan menghadirkan siaran yang berkualitas.

Disadari atau tidak, sebagian masyarakat di Indonesia masih suka menonton tayangan-tayangan yang kurang berkualitas. Tentunya, realita itu membuka peluang bagi industri penyiaran untuk menyajikan konten-konten yang disukai atau dipilih pemirsa. Untuk itulah perlu edukasi dan literasi media secara konsisten dan kontinyu. Masyarakat tertentu butuh pencerahan seperti apa memilih konten-konten siaran yang berkualitas dan bermanfaat.

Ke depan, masyarakat mestinya semakin cerdas untuk memilih dan memilah siaran yang berguna dan menginspirasi. Jangan mau diperbudak siaran-siaran yang kurang berkualitas. Bicara mengenai tugas dan tanggung jawab dunia penyiaran, tentu tidak terlepas dari berbagai komponen baik pemerintah, KPI, industri penyiaran dan masyarakat. Harus ada kesadaran dan tanggung jawab di masing-masing pihak. Perlu dukungan dan sinergi bersama.

Semoga dengan siaran yang sehat membawa dampak positif baik di bidang ekonomi, pendidikan dan sebagainya. Masyarakat semakin terinspirasi dan termotivasi melakukan perubahan, kian cerdas dan harapannya derajat Bangsa ikut terangkat. Wallahu’alam bish showwab. (*)

*) Artikel ini ditulis oleh Nadhiroh, S.Sos.I, M.I.Kom, Dosen Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam [KPI] STAIMAS Wonogiri, yang sebelumnya telah tayang di https://timesindonesia.co.id/kopi-times/338492/siaran-sehat-derajat-bangsa-terangkat

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *