Piala Dunia Qatar, HDI dan Komunikasi Inklusif

“Hai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa“. Kutipan terjemah QS. Al Hujurat ayat 13 ini dibacakan Ghanim Al-Muftah pada Pembukaan Piala Dunia 2022 di Stadion Al Bayt, Al Khor, Qatar, Minggu (20/11/2022) malam. 

Ghanim adalah duta Piala Dunia Qatar yang melantunkan ayat suci Al Quran pada pembukaan perhelatan sepakbola dunia bergengsi itu.

Keputusan Qatar memilih Ghanim menjadi duta benar-benar pilihan yang luar biasa dan menjadi bentuk penghargaan kepada penyandang disabilitas. Lelaki yang dikenal sebagai Youtuber itu seorang difabel yang terlahir dengan kondisi langka sebagai Caudal Regression Syndrome (CDS). Qatar memberikan kesempatan kepada penyandang disabilitas untuk tampil di hadapan jutaaan orang baik yang hadir langsung di stadion maupun menonton dari berbagai penjuru dunia melalui media penyiaran dan media sosial.

Penampilan itu bisa menjadi pendorong bagi seluruh penduduk di muka bumi ini untuk bersatu membangun dunia di dalam perbedaan. Tak ada manusia yang sempurna sebab setiap insan pasti memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Di dunia ini, Yang Maha Kuasa telah menciptakan manusia bermacam-macam.  Ada yang berpostur tinggi dan pendek, berkulit putih, hitam, sawo matang, rambut lurus, keriting dan sebagainya. Di antara mereka ada yang terlahir dengan tubuh normal dan ada pula yang memang ditakdirkan dengan kekurangan atau keterbatasan.

Sabtu (3/12/2022) ini bertepatan dengan peringatan Hari Disabilitas Internasional (HDI). Majelis Umum PBB mengubah nama International Day of Disabled Persosn menjadi International Day of Person with Disabilites pada 18 Desember 2007. Nama baru itu dipakai sejak 2008 sampai sekarang.

Mengutip situs resmi Persatuan Bangsa-bangsa (PBB), tema HDI 2022 yaitu “Transformative solutions for inclusive development: the role of innovation in fuelling an accessible and equitable world” atau “Solusi transformatif untuk pembangunan inklusif: peran inovasi dalam mendorong dunia yang dapat diakses dan adil”.

Kehadiran penyandang disabilitas dengan kekurangan/keterbatasan baik fisik atau kemampuan lain tentu bukan karena kesalahan dan keinginan mereka. Sayangnya, belum semua orang mau dan bisa menerima kondisi itu. Baik di dalam keluarga maupun masyarakat sekitar, terkadang orang berkebutuhan khusus atau penyandang disabilitas ini kurang bisa diterima. Para disabilitas itu bukan ingin dikasihani, mereka butuh pengakuan dan perlakuan yang setara.

Sedikit demi sedikit, secara bertahap, pengakuan-pengakuan kepada para disabiltias terus berkembang. Semakin banyak pihak yang memiliki kepedulian dan perhatian kepada mereka.

Komunikasi Inklusif

Menjalin komunikasi dengan penyandang disabilitas membutuhkan kesabaran dan kebesaran hati. Berbicara dengan kesungguhan hati dan berupaya membangun komunikasi inklusif.

Seperti disebutkan dalam Pedoman Acara dan Komunikasi Inklusif yang dirilis www.ksi-indonesia.org, komunikasi inklusif memastikan pesan disampaikan dengan cara yang paling tepat dan menjangkau khalayak seluas mungkin. Materi dan publikasi secara positif menggambarkan dan mempromosikan keberagaman dalam hal usia, gender, disabilitas, dan etnisitas. Di dalam panduan itu dijelaskan secara detil bagaimana berkomunikasi melalui materi cetak, situs web dan media sosial serta membangun komunikasi interpersonal.

Di antaranya yaitu mulailah komunikasi dengan menyapa penyandang disabilitas secara langsung, tidak kepada pendampingnya. Apabila berkomunikasi dengan penyandang disabilitas netra, maka bentuk sapaan dilakukan dengan menyebut nama sang lawan bicara dan nama kita sendiri, agar penyandang disabilitas netra itu mengetahui siapa kita. Selain itu, bentuk sapaan dapat diikuti dengan menyentuh punggung tangannya dengan punggung tangan kita secara sederhana, agar Ia dapat mengetahui posisi kita. Apabila berkomunikasi dengan penyandang disabilitas tuli, apabila posisinya tidak sedang melihat kita, maka disapa dengan menepuk bahunya.

Mari sama-sama nguwongke penyandang disabilitas. Sekali lagi, mereka bukan ingin dikasihani tapi butuh perlakuan yang setara. Mengajak penyandang disabilitas semakin berdaya dan percaya diri dengan potensi masing-masing. Mari turut berkontribusi untuk pembangunan inklusif agar dunia dapat diakses lebih adil.

Mengutip petikan lirik lagu grup Band Superman is Dead (SID): “Ayo bangun dunia di dalam perbedaan, jika satu tetap kuat kita bersinar, harus percaya tak ada yang sempurna, dan dunia kembali tertawa”.

Wallahu’alam bishshowwab.

*) Artikel ini ditulis oleh Nadhiroh, S.Sos.I, M.I.Kom, Dosen Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam [KPI] STAIMAS Wonogiri, yang sebelumnya telah tayang di https://timesindonesia.co.id/kopi-times/438999/piala-dunia-qatar-hdi-dan-komunikasi-inklusif

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *